1:

Selamat Membaca!

Selamat datang di Blog yang Bukan Blog ini, silahkan membaca segala bahan yang terposting di blog ini dan jangan lupa,
comments ya...
Happy Reading ;)
*sorry kalo banyak tulisan lebay

Pemuda Menggenggam Sejahtera

Modis kata-kata seperti itulah yang tertanam di jiwa-jiwa pemuda sekarang ini, seakan konotasi yang disajikan untuk pemuda berupa progresif, intelek dan revolusiner tak sanggup untuk dikecap sehingga tercerna kedalam pemikiran pemuda masa kini yang seharusnya dimiliki. Persyaratan untuk menjadi pemuda sepertinya sudah diganti dengan kalimat pertama diatas, dengan alas an estetika dan kesenian. Mereka mengagungkan hal seperti itu yang hanya membuahkan degradasi moral, penyimpangan social, brutalitas dan mendesorder (mengacaukan) pembangunan bangsa. Dibuktikan dengan adanya berbagai tauran banyak sekolahan, stadion sepak bola yang hanya disebabkan hal sepele seperti permasalahan cewek, kalah dalam pertarungan sepak bola dan berbagai permasalan konyol lannya.

JARAN BODHAG KESENIAN ASLI PROBOLINGGO

Ketika Anda berkunjung ke Alun-alun kota Probolinggo pada tanggal 13 Juli 2009 yang lalu, Anda akan dijamah oleh alunan merdu gamelan yang tak jauh dari situ. Anda cukup mengikuti jalan setapak kearah barat laut dan belok mengikuti arah utara, diujung pandangan Andalah bersumber suara gamelan yang “menelusuri” gendang telinga Anda. Panggung yang memenuhi pertigaan jalan itu, dipenuhi oleh gerak lihai pemain Jaran Bodhag, budaya asli Probolinggo.
Sore hari, tepatnya pukul 15.00 WIB. Bapak Sufandi selaku ketua pementasan bagian seni dalam acara SEMIPRO (Seminggu di kota Probolinggo) memberikan sambutan sekaligus arahan mengenai Jaran Bodhag. Dalam sambutannya, beliau menceritakan asal muasal Jaran Bodhag ini. “Dari segi etimologi, Bodhag berasal dari Bahasa Madura yang berarti suatu wadah besar yang diukir menyerupai jaran (kuda),” Tuturnya.
Jaran Bodhag ini berbentuk seperti Kuda Kencak yang sering kita lihat dalam acara mengarak seorang anak yang telah dikhitan, perkawinan, pesta Tingkeban (perayaan atau upacara tujuh bulan kehamilan seseorang) dan acara-acara besar lainnya. Awalnya, Kuda Kencaklah yang menjadi seni asli di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Mangga”ini. Kemudian reinkarnasi dari Kuda Kencak ini menjadi perkembangan seni yang dihasilkan oleh rakyat Probolinggo.
Dari sejarahnya, Jaran Bodhag muncul ketika ada rakyat miskin di Probolinggo yang ingin mengeksistensikan budaya Kuda Kencak. Karena biaya yang tidak memungkinkan, warga itu berinisiatif untuk mentransisi bentuk Kuda Kencak menjadi lebih mudah didapat dan bisa dimiliki oleh siapapun yang menginginkannya, termasuk warga miskin seperti dia. Sehingga lahirlah Jaran Bodhag. Tak ayal, jika masyarakat Probolinggo bebas untuk mengimplementasikan arak-arakan Jaran Bodhag ini.
Jaran Bodhag memiliki kwalitas seni yang khas dan eksotis. Pernak-pernik yang bergelantungan disetiap sisi tubuh replika Kuda Kencak ini menginterplai kita untuk selalu menatap keindahannya, lebih-lebih ukiran yang terpahat di kedua sisi tubuhnya, seakan menghipnotis kita untuk mematuhi setiap gerakan jenaka yang dihasilkan oleh si “kuda”. That is perfect performance…..!!!
Penampilan Jaran Bodhag yang “terbungkus” dalam festifal Semipro, menunjukkan bahwa budaya asli Probolinggo ini masih tetap eksis dipertahankan oleh setiap generasi. Para Janis (pengiring Jaran Bodhag) juga berpesan kepada kita semua untuk tidak melupakan keindahan seni yang dimiliki oleh Probolinggo. Ironis sekali jika masyarakat Probolinggo meninggalkan seninya yang begitu eksekutif ini. Saking menariknya, acara yang berlangsung hanya dua jam itu, telah berberhasil menarik perhatian pengunjung dari luar kota. “Selain mencari pengalaman lebih banyak, saya juga ingin menikmati budaya asli Probolinggo ini,” ucap Anton salah satu pengunjung acara Jaran Bodhag asal Malang.
Harmonisasi juga tidak ketinggalan untuk ditunjukkan kepada para penonton. Hal inilah yang menjadi tujuan utama terselenggaranya Jaran Bodhag. Pesan-pesan yang diberikan oleh para Janis yang dipadu dengan humor, akan menjadikan kita cekikikan. Sungguh ini akan membuat penonton semakin terhibur olehnya. Dengan demikian, tidak sedikit insan yang menyaksikan tingkah jenaka Janis dan Jaran Bodhag.
Tapi sayang, mayoritas yang menonton pertunjukan ini adalah masyarakat yang berusia 30 tahun ke atas dan dari kalangan anak muda-mudi hanya terlihat segelintir saja. “Mungkin minat mereka umtuk menonton seni ini sudah terkikis oleh arus Globalisasi,” ungkap Bapak Sufandi lagi. Semoga saja arus Globalisasi radikal tidak dapat mengikiskan atensi pemuda terhadap budaya asli yang dimilikinya.

Artikel ini sudah penulis publikasikan di majalah MISI (Media Informasi Siswa Intelektual) SMA Nurul Jadid

Santri nggak harus kuno man…!!!

Gaul Abiez, Metal, ngikutin arus globalisasi terlebih dalam hal teknologi dan modis, hal itulah yang selalu terngiang di otak remaja sekarang yang nantinya bakalan jadi pemuda yang harus mengemban tugas berat buat menyongsong kesejahteraan umat. Nah sekarang permasalahannya, apa bener kita sebagai anak muda harus ngikutin yang kayak gitu tuh?? Terlebih bagi anak yang pada nyantri seharusnya ada sedikit rasa destinatif (antipati) sama hal-hal kayak gitu…

Lagi-lagi tentang masa depan

Alhamdulillah, pada sore ini, aku dapat membuka Facebookku kembalim dan aku melihat, postinganku pada 1 Desember 2010 telah dikoment oleh sanak famili, padahal itu hanyalah postingan dengan dua kata


Lukman Hakim Al-Bayoran

Lukman Hakim Al-Bayoran Tunggu saja...

Wartawan Guardian ditangkap karena mencoba untuk menembus rahasia Bilderberg

Hallo sobat bloger semuanya, akhir-akhir ini kita didengungkan dengan berita yang begitu mendunia di dunia maya maupun nyata, sebuah situs yang begitu menggegerkan warga AS beserta sekutunya. Wikileaks begitu nama situs tersebut, sebuah situs yang telah membocorkan dokumen rahasia di berbagai negara. Saat ini creator situs itupun dicap sebagai pesakitan yang saat ini ditindak oleh keamanan Inggris, Julian Assange. artikel ini merupakan salah satu dokumen rahasia yang diungkapkan  Wikileaks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

Kita manusia di Bilderberg: dalam mengejar komplotan rahasia dunia yang paling kuat12 Mei 2009
Sekali setahun, itu dikabarkan, para elit global berkumpul di sebuah hotel mewah untuk mengunyah menyempurnakan lemak dan rencana rahasia mereka untuk menguasai dunia. Kami mengirim Charlie Skelton dalam pengejaran.
Aku tak tahu mengapa aku pada penerbangan ke Athena, kecuali yang tampaknya seperti hal yang tepat untuk dilakukan. Aku terbang keluar pada pusing menit terakhir untuk berkeliaran di luar konferensi yang mungkin, atau tidak mungkin, akan terjadi dan yang saya tidak diundang. Tak satu pun dari Anda telah.
Anda tidak akan pernah membaca tentang hal itu. Anda tidak akan melihat daftar tamu, Anda tidak akan melihat foto-foto itu. Hal ini tidak terjadi. Itu tidak ada. Aku terbang ke Athena tanpa alasan sama sekali. Untuk memiliki liburan saya tidak layak dan tidak bisa benar-benar mampu. Mungkin sedikit menangkap sengatan matahari, ambil beberapa keracunan makanan, dan pulang ke rumah. Sia-sia.
Kecuali, tentu saja, rumor adalah benar. Kecuali, sebagai segelintir orang yang mengatakan, akhir pekan ini Bilderberg. Penyesuaian tahunan bintang jauh yang membentuk takdir kita. Sebuah akhir pekan yang panjang di sebuah hotel mewah, di mana elit dunia sampai ke berjabat tangan, denting gelas, menyempurnakan agenda global mereka dan pertengkaran tentang siapa yang mendapatkan berjemur matahari terbaik. Saya menduga bahwa Henry Kissinger membawa sendiri, telah itu helicoptered dalam dan dijaga 24 / 7 oleh tim CIA ops khusus.
Jika itu terjadi sama sekali, Kissinger akan berada di sini. David Rockefeller akan berada di sini. Presiden bank, dan ketua dewan. Ben Bernankes dan Condoleezza Beras dunia ini. Kepala perusahaan minyak, magnates media, Ratu Belanda dan Peter Mandelson. Mungkin Ben Bernanke, mungkin David Cameron. Politisi dan pemodal dari semua lima penjuru dunia (jangan biarkan mereka memberitahu Anda ada empat). Dan aku.
Aku tiba malam terakhir, di bawah penutup dari kegelapan. Saya mengatakan kepada sopir taksi untuk berhenti 50 meter dari hotel. Dia bertanya mengapa. Saya tidak bisa mengatakan bahwa hal itu begitu aku bisa kasus pintu masuk untuk lensa FBI. Aku hanya bergumam bahwa saya tidak bisa menjelaskan. Matanya menyala. "Aha Saya melihat! Aku tahu!" Apa yang dia tahu? Dan siapa yang mengikuti kita? Seorang pria dalam sebuah BMW. Pasti mata-mata.
Sadarlah.
Blog Bukan Blog Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters