Modis kata-kata seperti itulah yang tertanam di jiwa-jiwa pemuda sekarang ini, seakan konotasi yang disajikan untuk pemuda berupa progresif, intelek dan revolusiner tak sanggup untuk dikecap sehingga tercerna kedalam pemikiran pemuda masa kini yang seharusnya dimiliki. Persyaratan untuk menjadi pemuda sepertinya sudah diganti dengan kalimat pertama diatas, dengan alas an estetika dan kesenian. Mereka mengagungkan hal seperti itu yang hanya membuahkan degradasi moral, penyimpangan social, brutalitas dan mendesorder (mengacaukan) pembangunan bangsa. Dibuktikan dengan adanya berbagai tauran banyak sekolahan, stadion sepak bola yang hanya disebabkan hal sepele seperti permasalahan cewek, kalah dalam pertarungan sepak bola dan berbagai permasalan konyol lannya.
Pemuda sekarang sangat hedon dalam gaya hidupnya (live style). Bahkan ada juga pemuda yang mendestasikan dirinya kepada pemuda berjiwa progresif, intelek dan revcolusioner. Dengan alas an, pemuda yang seperti itu (progresif, intelek, dan revolusioner) dianggapnya sepagai orang yang kuper, katrok, kuno dan nggak bisa mengikuti perkembangan zaman (nggak gaul) Seakan kita (pemuda sekarang) tidak memikirkan perjuangan pemuda pra-kemerdekaan. Bisa dikatakan mereka yang berjuang demi kita malah kita mendurhakainya. Kita tidak pernah membayangkan perih rintihnya masa perjuangan, bahkan kita mendekadensikan Indonesia kembali (yang secara tidak langsung berarti kita menjajah diri kita sendiri) dan mirisnya para pejabat Negara yang menganggap hal ini sebagai hal yang prevalentif. Ditambah semakin membudayanya KKN, makelar kasusu yang bebas beronar, dan pemegang hirarki Negara yang semakin sewenang-wenang.
Kurangnya kesadaran moral ini, lantaran kurangnya pendidikan dalam beragama dan khusnul adab. Bayangkan saja, hampir tidak ada sekolah yang mempraktekkan doktrin agama tentang tata karma, menciptakan kerukunan, berbudi luhur. Mungkin hanya sekedar materi pelajaran berupa akidah akhlak yang mengisi waktu sejam-dua jam. Bahkan banyak guru-guru yang masih mempraktekkan tingkah premanisme di kelasnya yang seharusnya guru menjadi suri tauladan yang baik bagi siswa. Pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) seharusnya sejak dini sudah ditanamkan sifat kemanusiaan yang dapat membangun bangsa, bukan dituntun untuk memiliki gaya hidup yang wah. Jangan jadikan kasih sayang sebagai alasan untuk menanamkan live style seperti itu kepada pemuda Indonesia, karena masih banyak rakyat miskin merana meminta segenggam kesejahteraan. Sadarlah wahai pemuda!
Artikel ini sudah penulis publikasikan di majalah MISI (Media Informasi Siswa Intelektual) SMA Nurul Jadid
Selamat Membaca!
Selamat datang di Blog yang Bukan Blog ini, silahkan membaca segala bahan yang terposting di blog ini dan jangan lupa, comments ya...
Happy Reading ;)
*sorry kalo banyak tulisan lebay
Happy Reading ;)
*sorry kalo banyak tulisan lebay
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
Universitas Negeri Jember
Time Is Money
My Visitor
Live Music
Free Mp3 Music Player at www.musik-live.net kalo nyetel, klik dua kali yaa...
BBB Visitors
Which choice?
Labels
- Artikel (10)
- Asal Unik (4)
- Edisiku... (4)
- Game (3)
- Informasi (8)
- Internet (2)
- Laughing (2)
- Music (3)
- Percantik Blog (14)
- Religion (2)
- Science (5)
- Technology (6)
- Top Figure (7)
Entri Populer
-
Bagian kedua dari strategi Imperium Romanum yang begitu populer . Permainan ini menawarkan lebih dari 20 peta bersejarah ...
-
Film Porno diproduksi tak lama setelah proyektor gambar bergerak pertama ditemukan pada tahun 1895 (berarti pornografi udah laku dari jaman ...
-
Akupuntur adalah teknik pengobatan yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. Jarum-jarum yang sangat tajam digunakan untuk menstimul...
Blog Archive
/ JavaScript Document



0 komentar:
Posting Komentar