1:

Selamat Membaca!

Selamat datang di Blog yang Bukan Blog ini, silahkan membaca segala bahan yang terposting di blog ini dan jangan lupa,
comments ya...
Happy Reading ;)
*sorry kalo banyak tulisan lebay

Komoditi, Nlai Guna dan Nilai Tukar

Kayaknya ngga keren ya kalo mahasiswa ngga pernah bahas marxisme, kali ini saya ingin perlahan-lahan kita menapak tilas pemikiran filsuf “jagoan pekerja” yaitu Karl (Heinrich) Marx. Hal yang menjadi bahasan pertama ialah tentang komoditi, hal mendasar yang seringkali menjadi peroblematika umat manusia. Pertama-tama, komoditi merupakan benda yang ada di luar kita, sesuatu yang sifat-sifatnya satu sama lain digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apakah kebutuhan itu timbul dari perut atau khayalan tidak menjadi soal disini. Pada dasarnya, setiap benda yang berguna dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia bisa dilihat dari dua sudut pandang, yakni kualitas dan kuantitas.

Karl Marx
Karl Heinrich Marx
Setiap benda yang berguna adalah kesatuan yang memiliki banyak sifat dan karena itu dapat digunakan dengan berbagai cara[1]. Kualitas menurut Marx dalam Kapital, Sebuah Kritik Ekonomi Politik Buku Pertamanya dimaknai sebagai penemuan mengenai berbagai segi kegunaan dari sebuah benda2 dan kualitas ini digunakan sebagai tolak ukur atas kuantitas benda-benda berguna tersebut. Tolak ukur tersebut adalah hal yang berbeda-beda atas keragaman sifat benda yang diukur, hal ini dikarenakan sifat benda tersebut dan sebagian karena kebiasaan (budaya dan kultur)
Apakah terlihat rumit? Kalau begitu saya permudah. Ambil saja contoh mengapa harga air kemasan antara satu merek dengan merek lainnya berbeda? Jika ditilik dari sifat benda tersebut (baca: air kemasan) berarti kualitas (kegunaan, fungsi maupun nilai guna) merek di tiap air kemasan tersebut pastilah berbeda. Sedangkan jika kita melihat tolak ukur yang berbeda antara merek air kemasan satu dengan yang lain berdasarkan kebiasaan (budaya dan kultur) berarti kita melihat antara merek-merek tersebut telah dipandang oleh tiap orang di kawasan sebagai sesuatu yang berbeda.
Oke, saya kira satu paragraph diatas sudah cukup gamblang menjelaskan tentang “tolak ukur” atas pembahasan komoditi. Setelah kita menapak tilas pembahasan tentang nilai guna suatu barang, pembahasan selanjutnya ialah tentang nilai tukar. Sebelum melangkah lebih lanjut, saya ingin memberikan penekanan, bahwasanya nilai guna atau kegunaan tersebut bukanlah sesuatu yang menggantung begitu saja di udara, karena dibatasi oleh jasad dari komoditi itu, maka kegunaan (baca: nilai guna) tersebut tidak memiliki eksistensi yang terpisah dari komoditi.
Nilai guna dan nilai tukar memiliki makna yang berbeda, namun memiliki korelasi satu sama lainnya. Nilai tukar nampak sebagai suatu hubungan kuantitas, sebuah proporsi atau jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan nilai guna suatu jenis tertentu dengan barang yang memiliki nilai guna pula. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita menentukan kapasitas nilai tukar antar barang yang memiliki sifat dan nilai guna yang berbeda-beda? Marx menjawab, unsur umum dalam menentukan nilai tukar bukan didasari atas sifat geometris, fisik, kimiawi, atau alamiah lainnya. Dalam hubungan pertukaran, abstraksi nilai pakai dari komoditi itulah yang berperan. Pernahkah pembaca setia jemberisme.com berpikir untuk menentukan luas segitiga adalah dengan rumus ½ alas kali tinggi? Bukankah alas dan tinggi itu merupakan bentuk yang sama sekali berbeda dari segitiga? Bidang segitiga diukur dengan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bentuknya sendiri. Dengan cara seperti itulah nilai tukar komoditi mesti dapat direduksi pada sebuah unsur umum.
Baiklah, para pembaca jangan keburu ambil pusing, saya akan lebih sabar menjelaskan tentang  bagaimana nilai tukar komoditi tersebut berlaku. Sebagaimana halnya rumus ½ alas kali tingginya segitiga, rumusan untuk menentukan nilai tukar suatu barang tidak sama persis dengan bentuk pertukaran itu sendiri. Sebagaimana saya tekankan sebelumnya, bahwa nilai guna bukanlah sesuatu yang menggantung begitu saja di udara, dan entitas nilai guna itu tak lain ada pada barang itu sendiri. Yang menjadi focus pada nilai tukar adalah bagaimana pertukaran tersebut menjadi berguna atau membuatnya memimiliki nilai guna yang lebih tinggi lagi!3
Masih ada yang mengganjal kah? Masih pusing dengan rumusan-rumusan pemikiran Karl Marx? Baca terus jemberisme.com, kita akan terus menapak tilas pemikiran Karl Marx, mengambil manfaat yang ada pada pemikirannya, dan berkontribusi untuk Indonesia.
Salam Pemuda!
[1] Karl Marx, Kapital Sebuah Kritik Ekonomi Politik, Buku 1 Produksi Kapitalis, (hal, 3) Bagian Pertama, Komoditi dan Uang. Marx menjelaskan secara panjang lebar tentang bagaimana manusia (para pekerja) memproduksi komoditi yang akhirnya mampu memiliki daya guna.
2 Menurut Marx, hal-hal yang berkaitan dengan nilai guna suatu barang merupakan urusan sejarah. “setiap  barang mempunyai suatu manfaat hakiki” (intrinsic vertue). Maksud dari nilai guna adalah urusan sejarah penulis interpretasikan dengan dasar filsafat materialisme historis, barang-barang dengan ‘sentuhan tangan’ para pekerja mampu memiliki manfaat hakiki kapanpun barang tersebut dibuat (seperti halnya, kayu yang diukir menjadi kursi akan terus berguna sebagai tempat duduk)
3 Didalam suatu tatanan masyarakat berlaku fictio juris ekonomi, bahwa setiap orang pembeli komoditi memiliki pengetahuan ensiklopedik mengenai komoditi. Dengan adanya fictio juris ekonomi ini, masyarakat mampu memilah dan memilih barang-barang potensial yang mampu memiliki daya guna lebih jika dibeli.
*Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional UNEJ
(Repost form Joyo Wae)
Sumber : Jemberisme.com

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Bukan Blog Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
free counters